Jual Bawang Goreng Murah Jawa Timur
Siapa tak kenal bawang goreng. Biasa ditabur di sup, bakso dan aneka
makanan lainnya untuk menambah nikmat cita rasa masakan serta memberi
aroma khas yang sedap.Untuk beberapa jenis makanan bahkan taburan bawang goreng menjadi menu wajib agar rasa makanan menjadi sempurna. Namun
siapa sangka kalau bawang goreng yang berfungsi sebagai pelengkap
masakan ini ternyata bisa menjadi bisnis mentereng yang bisa
menghasilkan omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan.
Koad
Chamdi(60) telah menikmati hasilnya. Pria beruban ini mampu membuktikan
bisnis yang bagi sebagian orang terlihat sepele ternyata bisa jadi
bisnis mumpuni jika dilakoni dengan sungguh-sungguh dan profesional.
Gagal sekali, dua, hingga lima kali juga bukanlah sesuatu yang bisa
membuatnya patah semangat.
Bak kata pepatah "sekali layar terkembang surut kita berpantang".
Bahasa orang bijak : kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
Memulai
bisnis dari nol pengalaman. Koad Chamdi adalah tipe seorang
entrepreneur yang mampu meraih sukses dari kemauan dan kerja keras.
Learning by doing. Belajar otodidak dengan tekad harus sukses demi
menafkahi keluarga menjadi motivasinya.
Meski awal meniti usaha
ia sempat diliputi perasaan gengsi harus menjual bawang goreng buatannya
secara ketengan. Rasa malu serta gengsi menghantuinya. Bagaimana
seseorang yang dulunya menjabat sebagai Kepala Fire&Safety di
perusahaan pupuk Asean di Lhokseumeawe harus memakai sendal jepit,
mengendarai sepeda motor, membawa bungkusan bawang goreng, dan
menawar-nawarkannya dari pasar ke pasar. Itulah yang dipikirkan Koad
Chamdi saat memulai bisnis Bawang Goreng Samosir miliknya.
Kecemasannya
bertemu dengan rekan-rekannya yang sudah berhasil membuat Koad sempat
merasakan takut. Dia takut dipandang rendah, dihina, dan dikasihani.
Akan tetapi semua perasaan itu mau tidak mau ditekannya, demi keadaan yang mengharuskannya menghasilkan rupiah.
Semua agar asap di dapur rumahnya terus mengepul dan anak-anaknya dapat terus melanjutkan pendidikan.
Tahun
1981 Koad mulai bekerja di perusahaan Pupuk Asean, di mana seiring
waktu berjalan dia dipercaya menduduki jabatan sebagai Kepala
Fire&Safety. Berada di zona nyaman dengan penghasilan setiap bulan
tak pernah terpikir membuka usaha.
Akan tetapi di tahun 2006
kehidupannya berbalik. Perusahaan pupuk tempatnya bekerja tutup, dan
semua karyawan perusahaan tersebut di-PHK. Jadilah Koad menganggur,
tanpa kerja maupun kegiatan.
Istilah pasarannya Koad
luntang-lantung, bingung harus melakukan apa, sementara dia juga tidak
memiliki keterampilan khusus dalam satu bidang.
Hidup tanpa
tujuan pasti dilaluinya hampir tiga tahun, hingga akhirnya Koad diberi
sebuah petunjuk jalan untuk kesuksesannya. Mungkin inilah disebut hikmah
di balik musibah. Kala itu di tahun 2009 akhir, dalam keterkatungan
hidupnya, Koad makan di sebuah warung.
Dia meminta tambahan
bawang goreng untuk makanannya kepada si pemilik warung, namun yang
diterimanya hanya secuil bawang goreng beserta alasan ketus kalau harga
bawang sedang mahal.
Seketika hatinya terhenyak, betapa pelitnya si pemilik warung hanya untuk sebuah bawang goreng.
Tapi di saat itu juga mata hatinya terbuka, berpikir untuk mulai berbisnis bawang goreng.
"Saya
berpikir bahwa saat ini orang inginnya yang praktis-praktis, dan bawang
goreng adalah bisnis yang punya prospek ke depan," katanya kepada
MedanBisnis beberapa waktu lalu saat ditemui di Jalan Mesjid, Medan.
Namun
yang menjadi kendala adalah dia tidak tahu seperti apa dan bagaimana
cara menjalankan sebuah bisnis, namun itu bukan alasan baginya untuk
tidak mencoba. Di tahun 2010 mulailah ayah dari tiga orang anak ini
menetapkan hati menjalankan bisnis bawang gorengnya. Sebagai langkah
awal Koad menggoreng sekitar 50 kg sampai 100kg bawang yang nantinya
akan dipasarkan ke berbagai tempat.
Untuk membeli puluhan dan
ratusan kilogram bawang tersebut, Koad harus mengeluarkan dana sebesar
Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu dan memperkerjakan 4 orang karyawan.
Tak
langsung berhasil tentunya. Jatuh bangun membangun bisnis lazimnya para
entrepreneur juga dialaminya. Untung semangat juang "45" tetap menyala
di hatinya.
Dan kini setelah 5 tahun melakoni bisnis ini ia bisa
tersenyum senang menikmati jerih payahnya. Omzet 70 juta per bulan
sudah dikantonginya dan yang terpenting merek dagang bawang goreng
"Medan Crispy 22" sudah punya nama dan sudah masuk ke retail yang
membuktikan produknya adalah kualitas unggulan.
sumber: www.medanbisnisdaily.com
